- Back to Home »
- Pulau Tinabo , Taman Nasional Taka Bonerate »
- Taka Bonerate : Perjalanan Panjang Demi Hiu-Hiu Mungil di Pulau Tinabo
Posted by : Travelafin
Minggu, 08 November 2015
Taka Bonerate, mungkin
menyebut namanya saja kadang sulit diucapkan apalagi menuju ke tempat ini. Taka
Bonerate yang dalam bahasa lokal (bahasa bugis) berarti “karang menumpuk di
atas pasir atau gundukan batu di pasir”. Dimana ya? Kawasan ini terletak di Kabupaten
Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, Indonesia dan berbatasan dengan laut
Flores. Taka Bonerate menjadi Taman Nasional sejak tahun 2001. Taman Nasional
Taka Bonerate ini adalah taman laut yang mempunyai kawasan atol terbesar ketiga
di dunia setelah Kwajifein di Kepulauan Marshall dan Suvadiva di Kepulauan
Maladewa. Apa itu Atol? Atol adalah pulau karang yang biasanya berbentuk cincin
dan dibagian tengahnya danau/cekungan yang terisi air laut. Tentunya,
dikelilingi oleh terumbu karang yang sangat indah sehingga sangat bagus untuk
kegiatan menyelam, snorkeling, dan wisata bahari lainnya. Tak heran jika Taka
Bonerate ini menjadi salah satu Taman Nasional di Indonesia, karena memiliki
biodiversitas biota dan terumbu karang yang sangat tinggi serta beragam. Salah
satu pulau yang masuk dalam gugusan pulau-pulau di Taman Nasional Taka Bonerate adalah Pulau Tinabo.
Untuk menuju Pulau Tinabo,
bisa dikatakan susah-susah gampang. Susahnya mungkin karena jarak tempuh yang
panjang, dibutuhkan perjuangan, doa dan kesabaran. Tentunya, faktor cuaca juga
perlu diperhitungkan. Mudahnya adalah sudah banyak transportasi menuju kawasan
ini. Dari Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, Anda bisa memilih mau jalur
udara atau jalur darat? jika ingin menghemat waktu, Anda bisa menggunakan jalur
udara, menggunakan pesawat terbang menuju Bandara H. Aeropala, Selayar. Hanya
sekitar 40 menit saja. Namun, harus disesuaikan jadwal penerbangan menuju
Selayar. Karena tidak setiap hari dan setahu saya maskapai yang tersedia adalah
Wings Air. Biaya pun patut diperhitungkan. Jika Anda ingin menikmati setiap
perjalanan, santai, bekpekeran, biaya yang hemat, Kamu bisa memilih jalur darat
yang cukup panjang dan lama waktu tempuhnya.
Bulan April lalu, Saya dan teman-temann berkesempatan mengunjungi Taman Nasional Taka Bonerate dan Saya dipercayai untuk menjadi Tour
Leader dalam trp ini. Saya dan teman-teman (Hanum, Avi, Kak
Dita, Lulu, Juned, Koh Rendy dan Andy Arief) memilih jalur darat untuk
menghemat biaya. Kami menyewa mobil (Antar dan Jemput) dari Makassar menuju Bulukumba,
Pelabuhan Bira dengan waktu tempuh kurang lebih 5 jam. Perjalanan
dilanjutkan dengan menyebrang menggunakan Kapal Ferry selama 2 jam
menuju Pelabuhan Pamatata, Selayar. Jadwal keberangkatan kapal Ferry
ini ada setiap hari nya dan dalam sehari hanya ada 2 jadwal yaitu pagi dan
siang hari. Pada saat itu jadwal kapal ferry jam 09.00WITA. Jika kapal belum
berangkat, sempatkan untuk foto-foto di Pelabuhan Tanjung Bira, karena
pemandangannya cukup bagus. Dalam perjalanan 2 jam di kapal kami pun tertidur pulas.
Setibanya di Pelabuhan Pematata, Selayar, kami dibuat takjub dengan air laut yang jernih dan terlihat jelas karang-karang di perairan Selayar. Waw…belum sampai di kawasan Taman Nasional Taka Bonerate saja sudah jernih begini air laut nya. Bagaimana disana ya?? Pasti lebih indah dan keren. Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju kota Benteng dengan kisaran waktu 1.5 – 2 jam. Dalam perjalanan menuju kota Benteng, mata kita akan dimanjakan dengan pemandangan yang indah, yaitu banyaknya pohon kelapa yang menjulang tinggi serta sepanjang jalan ditemani oleh pantai yang indah. Sayang, kami tidak bisa singgah di Selayar, hanya lewat saja. Jalanan menuju kota Benteng juga cukup bagus, memang agak berliku-liku dan menanjak.
Setibanya di Kota Benteng, kami istirahat sejenak untuk solat dan makan siang sebelum melakukan perjalanan menuju Pelabuhan Pattumbukan. Perjalanan menuju Pelabuhan Pattumbukan memakan waktu sekitar 1.5 – 2 jam. Kapal kayu motor yang kami sewa sudah parkir dan siap mengantarkan kami berlayar selama 5-6 jam menuju Pulau Tinabo. Kami memulai perjalanan laut dari Pattumbukan jam 16.00 WITA, itu artinya sampai di Pulau Tinabo sekitar jam 21.00 atau 22.00 WITA. Berlayar di malam hari? Wah pasti seru neh. Yuhuuuu kami siaap berlayaaar... Awalnya kami masih bersemangat, melihat cuaca yang cerah, awan dilangit biru berderetan seperti kereta kencana, ombak yang tenang, sungguh indah sehingga membuat kami berfoto-foto dan bisa menyaksikan Sunset dalam perjalanan. Namun sayang, saat itu matahari tertutup awan tebal sehingga tidak bisa menyaksikan sunset. Lama kelamaan bosan juga, mengingat lamanya perjalanan laut. Ini yang membuat kenapa ke Takabonerate itu harus ramai-ramai, jangan sendirian, bisa garing selama di perjalanan. Hari berganti menjadi gelap. Itu tandanya malam telah tiba. Tidak ada penerangan dalam kapal. Akan tetapi menjadi malam special karena perjalanan kami ditemani oleh bintang-bintang yang bertaburan. Sangat indah. Kecepatan kapal dikurangi karena berlayar pada malam hari, minim cahaya, hanya mengandalkan senter yang dibantu oleh ABK agar Nakhoda bisa melihat jalur laut serta jarak kapal dengan karang di laut sangat dekat, jadi harus hati-hati dan itulah alasannya mengapa kapal berjalan lambat. Raungan mesin kapal kayu perlahan mulai berhenti. Tidak ada yang terdengar kecuali ombak kecil yang mendera di sisi kapal dan suara-suara manusia yang membantu kapal ini untuk merapat. Ya, akhirnya kami tiba di Pulau Tinabo. Pulau yang tersembunyi dan indah akan kekayaan bawah lautnya. Kami pun siap untuk sebuah petualangan yang tidak akan terlupakan.
![]() |
Pelabuhan Tanjung Bira dan Kapal Ferry yang mengantar kami menuju Selayar |
Setibanya di Pelabuhan Pematata, Selayar, kami dibuat takjub dengan air laut yang jernih dan terlihat jelas karang-karang di perairan Selayar. Waw…belum sampai di kawasan Taman Nasional Taka Bonerate saja sudah jernih begini air laut nya. Bagaimana disana ya?? Pasti lebih indah dan keren. Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju kota Benteng dengan kisaran waktu 1.5 – 2 jam. Dalam perjalanan menuju kota Benteng, mata kita akan dimanjakan dengan pemandangan yang indah, yaitu banyaknya pohon kelapa yang menjulang tinggi serta sepanjang jalan ditemani oleh pantai yang indah. Sayang, kami tidak bisa singgah di Selayar, hanya lewat saja. Jalanan menuju kota Benteng juga cukup bagus, memang agak berliku-liku dan menanjak.
Setibanya di Kota Benteng, kami istirahat sejenak untuk solat dan makan siang sebelum melakukan perjalanan menuju Pelabuhan Pattumbukan. Perjalanan menuju Pelabuhan Pattumbukan memakan waktu sekitar 1.5 – 2 jam. Kapal kayu motor yang kami sewa sudah parkir dan siap mengantarkan kami berlayar selama 5-6 jam menuju Pulau Tinabo. Kami memulai perjalanan laut dari Pattumbukan jam 16.00 WITA, itu artinya sampai di Pulau Tinabo sekitar jam 21.00 atau 22.00 WITA. Berlayar di malam hari? Wah pasti seru neh. Yuhuuuu kami siaap berlayaaar... Awalnya kami masih bersemangat, melihat cuaca yang cerah, awan dilangit biru berderetan seperti kereta kencana, ombak yang tenang, sungguh indah sehingga membuat kami berfoto-foto dan bisa menyaksikan Sunset dalam perjalanan. Namun sayang, saat itu matahari tertutup awan tebal sehingga tidak bisa menyaksikan sunset. Lama kelamaan bosan juga, mengingat lamanya perjalanan laut. Ini yang membuat kenapa ke Takabonerate itu harus ramai-ramai, jangan sendirian, bisa garing selama di perjalanan. Hari berganti menjadi gelap. Itu tandanya malam telah tiba. Tidak ada penerangan dalam kapal. Akan tetapi menjadi malam special karena perjalanan kami ditemani oleh bintang-bintang yang bertaburan. Sangat indah. Kecepatan kapal dikurangi karena berlayar pada malam hari, minim cahaya, hanya mengandalkan senter yang dibantu oleh ABK agar Nakhoda bisa melihat jalur laut serta jarak kapal dengan karang di laut sangat dekat, jadi harus hati-hati dan itulah alasannya mengapa kapal berjalan lambat. Raungan mesin kapal kayu perlahan mulai berhenti. Tidak ada yang terdengar kecuali ombak kecil yang mendera di sisi kapal dan suara-suara manusia yang membantu kapal ini untuk merapat. Ya, akhirnya kami tiba di Pulau Tinabo. Pulau yang tersembunyi dan indah akan kekayaan bawah lautnya. Kami pun siap untuk sebuah petualangan yang tidak akan terlupakan.
Pulau Tinabo
Adalah
salah satu pulau di Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan yang masuk
dalam gugusan pulau-pulau di Taman Nasional Takabonerate. Di Takabonerate, Pulau Tinabo terbagi dua yaitu Pulau Tinabo Besar dan Pulau Tinabo Kecil atau biasa disebut dengan Bungin Tinabo. Nah, yang kami datangi dan menjadi tempat menginap adalah Pulau Tinabo Besar yang memiliki dermaga kayu sepanjang kurang lebih 100 meter dimana seluruh pulau dikelilingi oleh
pantai berpasir putih, air laut yang selalu jernih, semakin dalam warna airnya
kehijauan, biru muda, hingg biru tua menuju bagian laut yang lebih dalam. Sedangkan Pulau Tinabo Kecil atau Bungin Tinabo adalah pulau yang tidak berpenghuni dan letaknya tepat di seberang barat Pulau Tinabo. Pulau Tinabo juga sebagai Basecamp tempat menginap bagi para
wisatawan domestik maupun mancanegara, karena hanya di pulau inilah yang
tersedia penginapan. Tidak banyak penginapan di pulau ini, jumlahnya terbatas. Kamar
yang tersedia memakai kipas angin (tidak ada AC), listrik pun di sini menyala
dari jam 18.00 WITA s.d. 24.00 WITA. Di pulau ini juga tidak ada air tawar
untuk mandi, hanya ada air asin (laut), walaupun ada air tawar tapi jumlahnya
terbatas. Ada juga sih yang menjual air tawar untuk mandi dengan harga Rp
25.000,-/dirigen. Air tawar di sini mengandalkan air hujan untuk ditampung,
lalu dimasak. Jadi, menurut saya, Jangan Mengharapkan Fasilitas Lebih di Pulau
Terpencil.
Bersama teman-teman di Pulau Tinabo |
Aktifitas di Pulau Tinabo selain bermain dengan bayi-bayi hiu, kita juga bisa melakukan aktifitas seperti snorkeling, berenang, berjemur, berperahu (kano) atau sekedar main-main pasir putih yang bertekstur lembut. Pasir putih disekeliling pantai, keanekaragaman biota
laut, rimbunan pohon kelapa dan berbagai keindahan alam lainnya menambah
ke-eksotisan Pulau Tinabo. Hanya dengan membalikkan badan saja kita bisa melihat
keindahan alam berupa matahari terbit (sunrise) maupun matahari terbenam
(sunset) yang begitu indah dari satu tempat.
Sisi lain Pulau Tinabo dan Tour Leader-nya Narsis...hehehe |
Di Pulau Tinabo terdapat spot untuk snorkeling. Tepatnya di depan dermaga kayu. Spot itu bernama Spot Kima atau Taman Kima di Tinabo yang termasuk ke dalam salah satu bagian Konservasi Kima. Kima atau disebut juga dengan Kerang Raksasa merupakan salah satu spesies yang dilindungi di Taman Nasional Taka Bonerate. Karena Kima merupakan hasil laut yang bernilai ekonomi tinggi. Harus hati-hati juga jika snorkeling di spot Kima. Awal nya memang malu-malu jika kita dekati, kima akan menutup mulutnya. Tapi jangan sampai lengah juga karna sewaktu-waktu bisa mencapit dan susah untuk dilepaskan. Tidak hanya Kima saja yang bisa dilihat di sini, tapi banyak juga ikan-ikan cantik dan terumbu karangnya yang masih terjaga. Jadi, marilah kita jaga keindahan dan kelestarian alam bawah laut Indonesia.
Kima atau Kerang Raksasa |
Biota laut lainnya di spot Kima |
Oh ya, Just Info aja neh, jika teman-teman butuh bantuan untuk Arrange sebuah trip, bisa menghubungi 087885694121 (Call/Text/WA)
yeay...Akhirnya muncul juga tulisan ini. Terima kasih Travelafin :D
BalasHapusPulau tinabo nya kece badaii~~ XD
BalasHapuswahh postingannya sangat menarik sekali mas :)
BalasHapusfoto foto nya juga indah banget
liburan ke dieng aja : Paket Wisata Dieng
Visit and Enjoy Dieng Plateau : Paket Wisata Dieng