Diberdayakan oleh Blogger.

Taka Bonerate : Perjalanan Panjang Demi Hiu-Hiu Mungil di Pulau Tinabo

Taka Bonerate, mungkin menyebut namanya saja kadang sulit diucapkan apalagi menuju ke tempat ini. Taka Bonerate yang dalam bahasa lokal (bahasa bugis) berarti “karang menumpuk di atas pasir atau gundukan batu di pasir”. Dimana ya? Kawasan ini terletak di Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, Indonesia dan berbatasan dengan laut Flores. Taka Bonerate menjadi Taman Nasional sejak tahun 2001. Taman Nasional Taka Bonerate ini adalah taman laut yang mempunyai kawasan atol terbesar ketiga di dunia setelah Kwajifein di Kepulauan Marshall dan Suvadiva di Kepulauan Maladewa. Apa itu Atol? Atol adalah pulau karang yang biasanya berbentuk cincin dan dibagian tengahnya danau/cekungan yang terisi air laut. Tentunya, dikelilingi oleh terumbu karang yang sangat indah sehingga sangat bagus untuk kegiatan menyelam, snorkeling, dan wisata bahari lainnya. Tak heran jika Taka Bonerate ini menjadi salah satu Taman Nasional di Indonesia, karena memiliki biodiversitas biota dan terumbu karang yang sangat tinggi serta beragam. Salah satu pulau yang masuk dalam gugusan pulau-pulau di Taman Nasional Taka Bonerate adalah Pulau Tinabo.

Untuk menuju Pulau Tinabo, bisa dikatakan susah-susah gampang. Susahnya mungkin karena jarak tempuh yang panjang, dibutuhkan perjuangan, doa dan kesabaran. Tentunya, faktor cuaca juga perlu diperhitungkan. Mudahnya adalah sudah banyak transportasi menuju kawasan ini. Dari Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, Anda bisa memilih mau jalur udara atau jalur darat? jika ingin menghemat waktu, Anda bisa menggunakan jalur udara, menggunakan pesawat terbang menuju Bandara H. Aeropala, Selayar. Hanya sekitar 40 menit saja. Namun, harus disesuaikan jadwal penerbangan menuju Selayar. Karena tidak setiap hari dan setahu saya maskapai yang tersedia adalah Wings Air. Biaya pun patut diperhitungkan. Jika Anda ingin menikmati setiap perjalanan, santai, bekpekeran, biaya yang hemat, Kamu bisa memilih jalur darat yang cukup panjang dan lama waktu tempuhnya.

Bulan April lalu, Saya dan teman-temann berkesempatan mengunjungi Taman Nasional Taka Bonerate dan Saya dipercayai untuk menjadi Tour Leader dalam trp ini. Saya dan teman-teman (Hanum, Avi, Kak Dita, Lulu, Juned, Koh Rendy dan Andy Arief) memilih jalur darat untuk menghemat biaya. Kami menyewa mobil (Antar dan Jemput) dari Makassar menuju Bulukumba, Pelabuhan Bira dengan waktu tempuh kurang lebih 5 jam. Perjalanan dilanjutkan dengan menyebrang menggunakan Kapal Ferry selama 2 jam menuju Pelabuhan Pamatata, Selayar. Jadwal keberangkatan kapal Ferry ini ada setiap hari nya dan dalam sehari hanya ada 2 jadwal yaitu pagi dan siang hari. Pada saat itu jadwal kapal ferry jam 09.00WITA. Jika kapal belum berangkat, sempatkan untuk foto-foto di Pelabuhan Tanjung Bira, karena pemandangannya cukup bagus. Dalam perjalanan 2 jam di kapal kami pun tertidur pulas.

Pelabuhan Tanjung Bira dan Kapal Ferry yang mengantar kami menuju Selayar

Setibanya di Pelabuhan Pematata, Selayar, kami dibuat takjub dengan air laut yang jernih dan terlihat jelas karang-karang di perairan Selayar. Waw…belum sampai di kawasan Taman Nasional Taka Bonerate saja sudah jernih begini air laut nya. Bagaimana disana ya?? Pasti lebih indah dan keren. Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju kota Benteng dengan kisaran waktu 1.5 – 2 jam. Dalam perjalanan menuju kota Benteng, mata kita akan dimanjakan dengan pemandangan yang indah, yaitu banyaknya pohon kelapa yang menjulang tinggi serta sepanjang jalan ditemani oleh pantai yang indah. Sayang, kami tidak bisa singgah di Selayar, hanya lewat saja. Jalanan menuju kota Benteng juga cukup bagus, memang agak berliku-liku dan menanjak.

Setibanya di Kota Benteng, kami istirahat sejenak untuk solat dan makan siang sebelum melakukan perjalanan menuju Pelabuhan Pattumbukan. Perjalanan menuju Pelabuhan Pattumbukan memakan waktu sekitar 1.5 – 2 jam. Kapal kayu motor yang kami sewa sudah parkir dan siap mengantarkan kami berlayar selama 5-6 jam menuju Pulau Tinabo. Kami memulai perjalanan laut dari Pattumbukan jam 16.00 WITA, itu artinya sampai di Pulau Tinabo sekitar jam 21.00 atau 22.00 WITA. Berlayar di malam hari? Wah pasti seru neh. Yuhuuuu kami siaap berlayaaar... Awalnya kami masih bersemangat, melihat cuaca yang cerah, awan dilangit biru berderetan seperti kereta kencana, ombak yang tenang, sungguh indah sehingga membuat kami berfoto-foto dan bisa menyaksikan Sunset dalam perjalanan. Namun sayang, saat itu matahari tertutup awan tebal sehingga tidak bisa menyaksikan sunset. Lama kelamaan bosan juga, mengingat lamanya perjalanan laut. Ini yang membuat kenapa ke Takabonerate itu harus ramai-ramai, jangan sendirian, bisa garing selama di perjalanan. Hari berganti menjadi gelap. Itu tandanya malam telah tiba. Tidak ada penerangan dalam kapal. Akan tetapi menjadi malam special karena perjalanan kami ditemani oleh bintang-bintang yang bertaburan. Sangat indah. Kecepatan kapal dikurangi karena berlayar pada malam hari, minim cahaya, hanya mengandalkan senter yang dibantu oleh ABK agar Nakhoda bisa melihat jalur laut serta jarak kapal dengan karang di laut sangat dekat, jadi harus hati-hati dan itulah alasannya mengapa kapal berjalan lambat. Raungan mesin kapal kayu perlahan mulai berhenti. Tidak ada yang terdengar kecuali ombak kecil yang mendera di sisi kapal dan suara-suara manusia yang membantu kapal ini untuk merapat. Ya, akhirnya kami tiba di Pulau Tinabo. Pulau yang tersembunyi dan indah akan kekayaan bawah lautnya. Kami pun siap untuk sebuah petualangan yang tidak akan terlupakan.

Pelabuhan Pattumbukan
Kami siap mengarungi lautan selama 6 jam
Pulau Tinabo
Adalah salah satu pulau di Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan yang masuk dalam gugusan pulau-pulau di Taman Nasional Takabonerate. Di Takabonerate, Pulau Tinabo terbagi dua yaitu Pulau Tinabo Besar dan Pulau Tinabo Kecil atau biasa disebut dengan Bungin Tinabo. Nah, yang kami datangi dan menjadi tempat menginap adalah Pulau Tinabo Besar yang memiliki dermaga kayu sepanjang kurang lebih 100 meter dimana seluruh pulau dikelilingi oleh pantai berpasir putih, air laut yang selalu jernih, semakin dalam warna airnya kehijauan, biru muda, hingg biru tua menuju bagian laut yang lebih dalam. Sedangkan Pulau Tinabo Kecil atau Bungin Tinabo adalah pulau yang tidak berpenghuni dan letaknya tepat di seberang barat Pulau Tinabo. Pulau Tinabo juga sebagai Basecamp tempat menginap bagi para wisatawan domestik maupun mancanegara, karena hanya di pulau inilah yang tersedia penginapan. Tidak banyak penginapan di pulau ini, jumlahnya terbatas. Kamar yang tersedia memakai kipas angin (tidak ada AC), listrik pun di sini menyala dari jam 18.00 WITA s.d. 24.00 WITA. Di pulau ini juga tidak ada air tawar untuk mandi, hanya ada air asin (laut), walaupun ada air tawar tapi jumlahnya terbatas. Ada juga sih yang menjual air tawar untuk mandi dengan harga Rp 25.000,-/dirigen. Air tawar di sini mengandalkan air hujan untuk ditampung, lalu dimasak. Jadi, menurut saya, Jangan Mengharapkan Fasilitas Lebih di Pulau Terpencil.  

Bersama teman-teman di Pulau Tinabo
Selamat pagi. Selamat bermain dengan babyshark. Yiippiieeee....itu kata-kata yang terlontar dari mulut saya menyemangati teman-teman yang bangun kesiangan. Mungkin, saat saya buat itinerary dan ada di dalamnya "bermain bersama babyshark di Pulau Tinabo" membuat mereka kaget dan excited. Tapi itulah yang sebenarnya. Di pulau ini kita akan menemui banyak bayi-bayi hiu bertebaran di depan pantai. Tidak perlu dipancing dengan darah, mereka (anak-anak hiu) selalu nongkrong setiap pagi di pantai di depan homestay kami yang menghadap ke barat. Pagi pertama kami dihabiskan dengan bermain bersama anak-anak hiu yang sedang kelaparan. Mereka menanti kami yang akan memberi makan dengan ikan-ikan kecil. Saat kami mencelupkan satu potongan ikan mentah, hiu-hiu mungil itu mulai mendekat, berkumpul dan mengelilingi kaki kami. Bayi hiu yang terdapat di depan pantai pulau tinabo ini termasuk spesies blacktip shark alias hiu bersirip hitam.

Hiu-hiu mungil yang setiap pagi menyapa kami di depan Pantai
Aktifitas di Pulau Tinabo selain bermain dengan bayi-bayi hiu, kita juga bisa melakukan aktifitas seperti snorkeling, berenang, berjemur, berperahu (kano) atau sekedar main-main pasir putih yang bertekstur lembut. Pasir putih disekeliling pantai, keanekaragaman biota laut, rimbunan pohon kelapa dan berbagai keindahan alam lainnya menambah ke-eksotisan Pulau Tinabo. Hanya dengan membalikkan badan saja kita bisa melihat keindahan alam berupa matahari terbit (sunrise) maupun matahari terbenam (sunset) yang begitu indah dari satu tempat. 


santai sambil menantikan Sunrise di Pulau Tinabo
Sisi lain Pulau Tinabo dan Tour Leader-nya Narsis...hehehe

Di Pulau Tinabo terdapat spot untuk snorkeling. Tepatnya di depan dermaga kayu. Spot itu bernama Spot Kima atau Taman Kima di Tinabo yang termasuk ke dalam salah satu bagian Konservasi Kima. Kima atau disebut juga dengan Kerang Raksasa merupakan salah satu spesies yang dilindungi di Taman Nasional Taka Bonerate. Karena Kima merupakan hasil laut yang bernilai ekonomi tinggi. Harus hati-hati juga jika snorkeling di spot Kima. Awal nya memang malu-malu jika kita dekati, kima akan menutup mulutnya. Tapi jangan sampai lengah juga karna sewaktu-waktu bisa mencapit dan susah untuk dilepaskan. Tidak hanya Kima saja yang bisa dilihat di sini, tapi banyak juga ikan-ikan cantik dan terumbu karangnya yang masih terjaga. Jadi, marilah kita jaga keindahan dan kelestarian alam bawah laut Indonesia. 

Kima atau Kerang Raksasa
Biota laut lainnya di spot Kima
Perjalanan panjang kali ini menambah wawasan dan pengalaman baru bagi kami dan tentunya tidak akan kami lupakan. Tak ada yang seindah negeri sendiri, Ya Indonesiaku.

Oh ya, Just Info aja neh, jika teman-teman butuh bantuan untuk Arrange sebuah trip, bisa menghubungi 0856.91020034 (Call/Text/WA).


     

PULAU WANGI-WANGI : GERBANG UTAMA MENUJU KEINDAHAN LAUT WAKATOBI



Pulau Wangi-wangi atau masyarakat sekitar menyebutnya dengan Pulau Wanci adalah sebuah pulau di Sulawesi Tenggara yang terkenal dengan keindahan lautnya. Pulau Wangi-wangi merupakan merupakan wilayah Kabupaten Wakatobi dan sekaligus menjadi pusat administrasi di Kabupaten Wakatobi. Nama Wakatobi sendiri merupakan kepanjangan dari empat pulau utama yaitu Wa dari Wangi-wangi, Ka dari Kaledupa, To dari Tomia dan Bi dari Binongko. Pulau Wangi-wangi merupakan pintu gerbang menuju Taman Laut Wakatobi yang menyimpan keindahan dunia bawah laut yang mempesona, kaya dan megah.  

Untuk menuju Pulau Wangi-wangi, Anda bisa memilih penerbangan dari Jakarta menuju Kendari atau menuju Bau-bau. Dari Kendari, perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan kapal ferry kayu dari Pelabuhan Kendari ke Pulau Wangi-wangi. Kapal berangkat 4 kali dalam seminggu, yaitu senin, selasa, kamis, dan sabtu jam 09.00 WITA (Tahun 2014) dengan waktu tempuh sekitar 10 jam. Begitu juga sebaliknya. Jika melalui Bau-bau di Pulau Buton, kapal ferry kayu berangkat setiap hari di malam hari jam 21.00 WITA (Tahun 2014) dengan waktu tempuh sekitar 9 jam. Apabila Anda ingin menghemat waktu dan mempunyai biaya yang cukup besar, perjalanan ke Pulau Wangi-wangi bisa menggunakan Pesawat Terbang dari Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar menuju Bandara Matahora, Wangi-wangi dengan waktu tempuh sekitar 2 jam. Namun, harus disesuaikan jadwal penerbangannya. Karena tidak setiap hari ada penerbangan ke Wangi-wangi dan setahu saya hanya Wings Air yang menyediakan penerbangan ke Wangi-wangi.

Saya dan kedua teman saya (Septi dan Icha), berkesempatan untuk mengunjungi WAKATOBI. Kami bertiga berangkat dari Jakarta menuju Pulau Wangi wangi melalui Kendari, Ibu Kota Sulawesi Tenggara. Kami menginap semalam di Kota Kendari. Keesokan harinya, kami bergegas menuju Pelabuhan Kendari menggunakan angkot dengan waktu tempuh sekitar 15-20 menit. Kapal Ferry yang membawa kami dan penumpang lainnya ke Wangi-wangi berangkat jam 09.00 WITA. Seperti biasa, terjadi keterlambatan keberangkatan alias Delay. Harga tiket kapal saat itu Rp 160.000,-. Tidak ada kelas-kelas nya di dalam kapal tersebut. Yang ada hanyalah penyewaan kamar dengan menambah biaya dihitung perjiwa sebesar Rp 80.000,-. Akhirnya kami memilih tempat yang telah disediakan, yaitu sesuai nomor di dalam tiket. Di dalam kapal ini, memiliki ranjang Dormitory, tersusun rapi dengan kasur tipis pas dengan ukuran badan kita (seperti kasur jika kita pergi ke Dokter). Terlentang, tengkurep, menoleh ke kiri teman-teman saya, menoleh ke kanan orang lain. Hahahaha…seru juga…Ada fasilitas karokenya juga loh..dengan TV layar datar, Micropone, DVD, tentunya artis-artis pendukung warga asli Wangi-wangi. Apalagi kalau bukan lagu Dangdut yang dinyanyikan. Yeaaah..Dangdut is the music of my country. Hehehe…lumayanlah ada hiburan untuk menghilangkan kejenuhan di kapal yang berlayar selama 10 jam. KHANMAEN – Jargon-nya si Icha..hahaha…Bosan?? tentu…dari ngobrol-ngobrol, tidur, bangun, minum, makan siang gratis yang lauknya sedikit tp nasinya banyak, ke toilet, tidur lagi, kebangun tetap belum sampai-sampai juga. Hahaha…makin seru..stag di kasur tipis ukuran sesuai badan. Selalu ingat, Nikmatilah setiap perjalanan Anda, kemanapun tujuan Anda, sesulit apapun perjalanan Anda, Nikmatilah!!! Disarankan membawa cemilan dan permainan, misalkan kartu, atau monopoli untuk menghilangkan rasa jenuh. Kapal sempat berlabuh di Dermaga Enreke untuk menurunkan penumpang. Dermaga yang tidak terlalu besar dan saya pun menyempatkan foto-foto dari kapal.
Neng Septi - Akhirnya sampai juga di Kendari
Pagi hari di Teluk Kendari
Sudah tidak sabar melihat keindahan laut Wakatobi, sampai nyangkut itu tas
Ini Kapal-nya, menuju Wanci
Bergaya di Dormitory kapal menuju Pulau Wanci
Dormitory
Sunset saat perjalanan menuju Pulau Wangi-wangi
Akhirnya, sampailah kami di Pelabuhan Wanci, Wangi-wangi. Perjalanan laut yang luar biasa selama 10 jam membawa kami tiba di Pulau Wangi-wangi tepat jam 20.00 WITA. Kami pun dijemput oleh Mas Wadi (kalau tidak salah hehehe...) yang akan menjadi Guide selama di Wakatobi. Saya amati, pulau ini memang besar. Sudah banyak fasilitas dan akomodasi yang memadai di Pulau ini. Terdapat Bank, Rumah Sakit, Bandar Udara, Sekolah, Hotel, penginapan bahkan resort sudah tersedia di Pulau ini. Pantas saja pulau ini menjadi pusat administrasi Kabupaten Wakatobi. Setelah melihat-lihat suasana malam di pulau ini, Kami langsung diantar untuk makan malam. Harapan kami adalah menu makan malam dengan makanan khas dari Pulau ini. Ternyata, kami dibawa ke sebuah warung tenda dan makan pecel ayam khas jawa timur. Hahaha…memang banyak warung-warung tenda yang menjual masakan dari daerah lain. Sepertinya transmigran. Mungkin, karena sudah malam, jadi restoran yang menjual masakan khas pulau ini sudah tutup. Setelah makan malam, kami pun diantar ke penginapan dan beristirahat.

Pastinya semua wisatawan yang berkunjung ke Wakatobi untuk menyaksikan kekayaan bawah laut yang berlimpah dan eksotis dengan air laut yang jernih, terumbu karang yang mempesona, dan tentunya aneka hewan laut cantik yang memang menjadi magnet kuat Wakatobi. Tidak hanya bawah laut nya yang mempesona, Daratan Pulau ini juga kaya akan keindahan alam dan budayanya. Namun, belum banyak yang tahu (kurang informasi) kalau di Pulau Wangi-wangi juga terdapat objek wisata yang keren dan patut kamu kunjungi, diantaranya Wisata Gua Alam, Pantai-pantai, Puncak Toliamba, Kehidupan Kampung Bajo dan Pasar Malam Tradisional. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Puncak Toliamba Wakatobi. Puncak Toliamba merupakan salah satu objek wisata dataran tinggi. Dari atas puncak ini, kamu dapat menikmati pemandangan alam dan areal perkebunan penduduk yang ditanami beberapa tanaman. Di samping itu juga kamu dapat menikmati panorama laut dan sunset dari puncak ini. Puncak Toliamba terletak di Desa Waginopo Kecamatan Wangi-wangi. Jarak yang ditempuh untuk sampai ke tempat ini sekitar 1  1.5 jam dari pusat kota.
Puncak Toliamba
Perkampungan Suku Bajo di Pulau Wangi-wangi
Terdapat beberapa Gua air tawar di Pulau Wangi-wangi (Wanci). Salah satunya Gua air tawar yang kami kunjungi, yaitu Gua Kontamale Wanci. Kontamale berasal dari kata Konta yang artinya Pegang dan Male yang berarti Luntur. Jadi kata Guide maksudnya adalah siapa yang ingin berbuat jahat di Gua ini, niatnya akan luntur. Gua Kontamlae terletak di tengah Kota Wangi-wangi, di tepi jalan dan dekat dengan rumah penduduk. Jika masuk ke dalam, terihat beberapa bagian Gua yang asri dan rindang dinaungi oleh pohon-pohon yang besar sehingga membuat Gua ini menjadi teduh. Hal inilah yang membuat setiap pengunjung betah berlama-lama dan menikmati suasana di Gua ini. Gua Kontamale memiliki air yang jernih dan bersih. Walau sudah sejak lama dimanfaatkan warga sekitar untuk mandi dan mencuci, air di dalam Gua ini tetap jernih dan bening. Andai saja punya waktu lama berada di sini, ingin rasanya kami menceburkan badan dan merasakan air di Gua ini. Pasti asyik dan menyegarkan.
Gua Kontamale Wanci, Pulau Wangi-wangi
Setelah asyik menikmati suasana di Gua Kontamale Wanci, kami diajak Guide Lokal mengunjungi Masjid Tertua di Pulau Wangi-wangi. Masjid Mubarok Liya, Masjid tertua di Wakatobi ini didirikan pada tahun 1546 tahun sesudah pelantikan Sultan Buton pertama pada tahun 1538, masjid tertua sesudah Masjid Agung Keraton Wolio. Letaknya di atas bukit, di dekat Benteng Liya Togo.

Kawasan Masjid Mubarok - Liya
Setelah menikmati daratan Pulau Wangi-wangi yang kaya akan keindahan alam dan budayanya, akhirnya kami menikmati indahnya laut Wakatobi yaitu di Sombu Jetty. Spot ini salah satu andalan wisata bahari di Pulau Wangi-wangi. Jaraknya dekat dari kota ataupun hotel tempat kami menginap. Hanya kisaran waktu 10 – 15 menit untuk sampai ke Sombu Jetty dengan menggunakan mobil. Spot yang menjadi andalan Pulau Wangi-wangi ini, selalu ramai dikunjungi wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Walau hanya sekedar berenang, snorkeling, menyelam ataupun hanya sekedar sunset. Tidak usah diragukan lagi akan keindahan perairan di Sombu Jetty. Begitu jernih, bening seperti kaca, memiliki terumbu karang yang indah. Sangat terlihat jelas sekali dari daratan.

Dari dermaga sudah terlihat jelas terumbu karang - Sombu Jetty
Sombu Jetty juga cocok untuk pemula yang ingin coba melihat indahnya laut lebih dalam lagi. Saya dan Septi mencoba Discovery Dive, ini pertama kalinya bagi kami yang masih pemula dan belum mempunyai License. Sedangkan Icha mengambil Open Water, karena sudah mempunyai License dan tentunya sudah mengerti tentang ”menyelam”. Sebelum menyelam, sebagai pemula wajib berkenalan sama gear yang akan kita pakai saat menyelam. Yang pertama itu Air Tank (tabung oksigen), Wetsuit, Fins, Mask & Snorkel, dive boots, dan yang ga kalah penting nih BCD (Bouyancy Compensator Divice) serta perintilan kecil yang seperti regulator, Pressure & Deep Gauge (alat pengukur isi tabung selama penyelaman dan tingkat kedalaman), serta Weightbelt (pemberat). Kami mendengarkan instruksi dari Dive Master yang akan menemani kami selama di bawah laut. Pelajaran yang singkat tentang menyelam. Semoga aman-aman saja di dalam laut. Banyak istilah-istlah dalam menyelam seperti Oke, Naik, Turun, Trouble, Jalan, Mengambang, Foto, dan lain-lain. Deg-degan?? Pastinya..karena ini pengalaman pertama saya menyelam.

Bergaya sebelum menyelam
Pas pertama turun dengan seluruh peralatan menyelam lengkap, ribet banget, panik, susah turun ke bawah. Awalnya naik-naik terus saat sudah di dalam. Mungkin karena panik, jadi pernapasan pun belum teratur. Itu yang bisa menyebabkan keracunan nitrogen. Akhirnya perlahan-lahan dengan dibantu Dive Master, bisa juga turun ke bawah. Dari 3 meter, lanjut ke 5 meter, 6 meter dan menuju 9 meter. Sungguh indah, kereeeen abiiiiss, tidak bisa berkata apa-apa. Terpukau saya melihat berbagai jenis ikan dan terumbu karang berbagai bentuk, ada yang datar, landai, cekung dan berbentuk dinding terjal sampai berbentuk gua-gua. Begitu juga beragam biota lautnya yang mengagumkan, cantik dan mempesona. Di saat saya sudah dalam posisi aman dan tenang di dalam laut, mulailah saya berfoto-foto. Di saat itulah, entah kenapa tiba-tiba saya merasakan sesak nafas, seperti kehabisan oksigen. Saya pun mulai panik. Saya sudah memberikan kode ”Trouble”, namun Dive Master memberikan kode ”Tenang”, tekan hidung jika telinga sudah mulai sakit. Bukan itu….rasanya pengen berbicara langsung di dalam air dan berkata ”Bang, Dada saya sesak, kehabisan oksigen” benar saja, masker saya lepas seperti ingin berbicara. Langsung buru-buru saya pasang lagi. Entah berapa liter air laut yang sudah masuk ke mulut saya. Panik..Panik.. dan Panik..itu yang saya alami. Akhirnya saya memutuskan ke atas (walau saya tidak tahu caranya bagaimana). Melihat saya memutuskan untuk naik (dengan cara yang salah), Dive Master pun membantu saya sampai ke atas. Dengan nafas terbata-bata, batuk-batuk karena sudah banyak minum air laut, akhirnya saya tertolong juga. Alhamdulillah terima kasih ya Allah. Dive Master mengatakan “Kalau sudah di dalam laut, jangan kosong pikirannya. Fokus. Dan yang terpenting adalah jangan panik. Tidak boleh juga langsung naik. Ada langkah-langkahnya”. Saya pun hanya diam dan mendengarkan saja karena dada masih terasa sesak. Pada saat instruksi tentang istilah-istilah dalam menyelam, memang tidak diberitahukan untuk kode ”Sesak Nafas” (sebut saja istilah nya itu ya…) dan pelajaran menyelam yang singkat. Mungkin terlewatkan tentang hal itu. Satu sisi saya masih pemula, tidak tahu menahu soal meyelam harus berapa meter dulu untuk pemula, dan saya hanya mengikuti Dive Master yang menemani saya selama meyelam. Saya pun tidak liat Pressure & Deep Gauge (alat pengukur isi tabung selama penyelaman dan tingkat kedalaman). Disarankan, jika masih pemula, jangan sampai terlalu dalam saat menyelam. Cukup di kedalaman 5 meter saja. Saya menyelam kurang lebih 30 menit.

 
Sombu Jetty, Pulau Wangi-wangi

Menanti sunset di Sombu Jetty yang mempesona, hanya itu yang bisa menghibur saya untuk mengembalikan energi dan ketenangan dalam diri setelah kejadian saat menyelam tadi. Tapi, matahari terbenam pun tertutup awan tebal. Hanya terlihat semburat pancaran sinar matahari yang akan terbenam meninggalkan kami.

Itulah pengalaman Saya dan kedua teman saya (Septi dan Icha) dalam menjelajah Pulau Wangi-wangi, Wakatobi, mulai dari daratan dengan keindahan alam dan budaya hingga keindahan bawah laut Sombu Jetty, Pulau Wangi-wangi. Tidak hanya Pulau nya saja yang indah, masyarakatnya pun ramah dan mudah tersenyum.

Semoga penjelasan di atas bermanfaat dan membuat teman-teman jadi ingin ke Wakatobi. Tak Ada Yang Seindah Negeri Sendiri, Ya Indonesiaku… Tetap jaga kelestarian alam Indonesia ya…

Tag : ,

- Copyright © TRAVELAFIN - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -